KEMITRASEJAJARAN PRIA DAN WANITA DALAM KOPDIT
Dari segi keanggotaan,anggota Kopdit pria dan wanita berimbang jumlahnya. Namun dalam kepengurusanmasih lebih banyak pria yang berperan sebagai Pengurus dari pada wanita dan pengurus pria banyak yang cenderung berpikir dari perspektifnya saja
Pria dan wanita menjadi mitra sejajar yang harmonis apabila keduanya benar benar memiliki persamaan hak , kewajiaban kedudukan,peranan,dan kesempatan dalam pembangunan diberbagai bidang,juga dalam Kopdit
Latar belakang dari dipilihnya ejaan bahasa Indonesia adalah istilah “gender” dalam bahasa Indonesiadapat dibaca gender [jawa] yang artinaya dapat membingungkan bila dibandingkan dengan pengertian yang tersirat dalam konsep “gender”[ bahasa Inggris ]
JENDER adalah perbedaan perbedaan sifat wanita dan pria yang tidak hanya mengacu pada perbedaan biolgis,tetapi juga mencakup nilai nilai sosial budaya. Nilai nilai tersebut menetukan peranan wanita dan pria dalam setiap bidang masyarakat.
Perkembangan jender merupakan interaksi kompleks antara faktor bawaan dan faktor sosial . Identitas jender ,makin dimantapkan melalui berbagai cara antara lain dengan adanya pembagian peran pria dan wanita. Dengan berbagai cara dan dalam lingukungan (dirumah,disekolah,dan dimasyarakt pada umumnya)pembagian peran pria dan wanita yang berlaku dalam lingungan budaya diperkenalkan pada setiap orang sejak usia dini dan sesuai dengan tahapan usianya.
Maka terbentuklah sifat sifat psikolgis yang khas jender[”gender specific traits”]. Ialah sifat, sikap dan prilaku yang dianggap pantas bagi seseorang karena laki laki atau perempuan. Sifat dan sikap khas jender ini berkembang sebagai hasil proses sosialnya dan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi relasi antar jender.
melalui peran sosial tersebut berbagai stereotip jender mulai muncul dan berlaku misalnya ; perempuan lebih sesuai bila tampil feminim atau pekerjaan khas perempuan[ sebagai kasir,sekertaris,humas ,petugas sosial dsb ] makin kuat.
Karena itu ditinjau dari relasi jender, bukan suatu kekecualian untuk menemukan bahwa perempuan ditempatkan lebih rendah terhadap lakia laki. Keadaan ini menggambarkan subordinasi perempuan terhadap laki laki .
Perilaku sesuai jender atau yang dianggap pantas danu tidak pantas bagi laki laki dan perempuan berbeda secara lintas budaya dan antar waktu. Studi antroplogi menunjukan tentang keragaman jender secara lintas budaya . Hasil hasil itu memberi petunjuk bahwa : jender bukan konsep statis tetapi jender sebagai kontruksi sosial dapat berubah dan dapat diubah meskipun meskipun tidak mudah untuk mengubahnya.
1.Penyadaran jender perlu agar anggota kopdit paham bahwa dalam masyarakat ada peranan yang berbeda yang diberikan kepada pria dan wanita yang dihasilkan oleh berbagai faktor ideolgis,historis,agam ,etik,ekonomi,dan politik. Peranan itu itu bukan suatu yang tidak dapat diubah karena dengan perkembangan jaman , peranan akan berkembang . Yang perlu diperjuangkan adalah walaupun peranan berbeda tetapi tidak menimbulkan prilaku ketidakadilan baik bagi pria maupun wanita.
2.Penyadaran jender perlu dalam Kopdit agar baik pria dan wanita dapat meningkatkan kepekaan terhadap keadaan yang mengandungmasalah jender yang menyebabkan masih sulitnya tercipta kemitra sejajaran dalam Kopdit seperti nampak dalam komposisi kepengurusan dalam Kopdit.
3.Penyadaran jender berkepentingan terhadap pola hubungan antara pria dan wanita dalam semua bidang termasuk dalam Kopdit, dan ada faktor faktor yang mempengaruhi nya. Pola hubungan itu perlu diarahkan pada pola kemitrasejajaran.
4. Kesadaran tentang adanya perbedaan perbedaa jender dalam masyarakat , khususnya dalam Kopdit adalah langkah pertama kearah upaya memperhatikan dan memadukan kepentingan kepentingan khusus pria dan wanita secara selarass dan serasi dalam program dan kegiatan Kopdit.
Dari segi pria, penyadaran ini perlu agar terbina kesediaan untuk memberi kesempatan dan peran mitra sejajar kepada anggota wanita untuk tampil menjadi pengurus Kopdit.
BEBERAPA DEFINISI PENTING
Istilah ini mengacu pada cara sistimatik untuk memeriksa perbedaan dampak pembangunan terhadap laki laki dan perempuan. Jender mengharuskan adanya pemisahan data menurut jenis kelamin serta pemahaman tentang bagaimana penilaian terhadap hasil kerjaantar jenis kelamin. Analisis jender harus dilakukan pada setiaptahap proses pembangunan.
Konsentrasi para perencana dan pelaku pembangunan pada isu WID muncul dari kesadaran bahwa sumbangan kaum perempuan telah diabaikan,yang mengakibatkan banyaknya kegagalan dalam upaya upaya pembangunan
GAD [ GENDER AND DELEVPMENT ]= Jender dan Pembangunan :
Pendekatan ini mengubah fkus dari perempuan sebagai kelmpok ke relasi antara perempuan dan aki laki yang ditentukan secara sosial. Pendekatan PAD memfokuskan pada kekuata sosial,Ekonomi, Politik, dan Budaya yang menentukan bagaimana laki laki dan perempuan berpartisipasi di dalamnya keuntungan dan kntrol sumber daya proyek serta kegiatan kegiatan yang berbeda.
SEX DIFERENTIATED DATA = Data Perbedaan Jenis Kelamin :
Data yang dikumpulkan lewat kuesioner pengamatan atau tekhnik tekhnik lain yang mengungkapkan perbedaan peran dan tanggung jawab laki laki dan perempuan . Data sperti ini penting agar dapat merancang proyek proyek peka jender.
PEMBAGIAN KERJA :
Mengacu pada pembagian kerja antara laki laki dan perempuan dan bagaiman penghargaan atas kerja tersebut dalam budaya atau masyarkat tertentu.
AKSES DAN KONTROL :
Konsep ini menekankan pentingnya perbedaan AKSES [ misalnaya :dapat bertani pada lahan milik orang lain ] dan kontrol [ misalnya : memiliki lahan dan dapat memutuskan bagaiman penggunaannya ]
Perempuan mungkin memiliki akses untuk sumber daya yang penting. Tetapi jika mereka tidak memiliki kontrol ,mereka tidak memiliki wewenang apapun ketika putusan dibuat atau sumber daya terancam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar